
Kurang lebih satu tahun yang lalu saya mulai mengenal sosok bapak Yanwar Sulistyana dan isternya; kala itu pak Ayi biasa saya sapa masih tampak bugar walau dimata saya tetap saja kelihatan tampak sakit. Pak Ayi adalah salah satu pasien penderita gagal ginjal yang harus cuci darah secara rutin setiap minggunya, dengan fasilitas GAKIN yang dimilikinya Pak ayi terus melewati hari – harinya ditemani oleh sang isteri yang senantiasa mendapinginya.
Pada bulan nopember 2008 saya bersua kembali dengan beliu dalam kondisi kesehatan yang tampak mulai menurun, pak ayi masuk ruang perawatan kelas 3 dengan fasilitas JAMKESMAS yang dimilikinya. Kulitnya yang mulai menghitam dan tampak kurus mecerminkan betapa dalamnya derita yang dipikulnya. Hari-hari pak ayi lewati dengan aneka rasa sakit sebagai efek samping dari penyakit yang dideritanya. YANG MENYENTUH PERASAAN SAYA ADALAH TELAH DIPERLIHATKANYA CONTOH TAULADAN DARI SEORANG ISTERI YANG DENGAN SABAR HATI DAN TANPA KELUH KESAH MENDAMPINGI SUAMI TERUS MENERUS; sepengetahuan saya tak sehari pun isterinya meninggalkan suaminya ketika masih dirawat.
Pak Ayi telah menghadap Yang Maha Kuasa pada hari senin, 8 desember 2008 jam 06.15 wib dipangkuan isteri tercinta yang tidak kuasa membendung derai air mata melepas suami tercinta menuju alam baqa. Semoga Allah menerima semua kebaikannya dan memaafkan segala kekhilafanya dan memempatkannya pada tempat yang mulia. Semoga saya bisa meneladani makna usaha dan sabar yang telah dicontohkan oleh pak ayi dan teladan yang mulia dari seorang isteri yang telah membaktikan diri pada suami. Pak Ayi beralamat di Jalan Porib VI No 54 Rt 09 Rw 09 Desa/Kec Babakan Ciparay kota bandung.
